Pendekatan Top-Down Development Untuk Melakukan Persiapan Dalam Membuat Animasi
PENDAHULUAN
1 1. Pengenalan Alice
Alice
adalah sebuah lingkungan pemrograman 3D yang inovatif yang memudahkan untuk
membuat animasi untuk bercerita, memainkan permainan interaktif, atau video.
Alice adalah alat pengajaran open source yang dirancang untuk menjadi paparan
pertama siswa untuk pemrograman berorientasi obyek. Hal ini memungkinkan siswa
untuk belajar konsep pemrograman mendasar dalam rangka menciptakan film animasi
dan permainan video sederhana. Di Alice, 3-D objek (misalnya, manusia, hewan,
dan kendaraan) merupakan populasi di dunia maya dan siswa membuat program untuk
menghidupkan objek tersebut.
Dalam antarmuka interaktif Alice, siswa hanya melakukan drag dan drop grafis untuk membuat sebuah program, dimana kode program sesuai dengan standar dalam bahasa pemrograman berorientasi obyek, seperti Java, C++, dan C#. Alice memungkinkan siswa untuk segera melihat bagaimana program animasi mereka berjalan, memungkinkan mereka untuk dengan mudah memahami hubungan antara kode program dan perilaku objek dalam animasi mereka. Dengan memanipulasi benda-benda di dunia maya, siswa memperoleh pengalaman dengan semua konstruksi pemrograman yang biasanya diajarkan dalam pelajaran pengantar bahasa pemrograman.
Dalam antarmuka interaktif Alice, siswa hanya melakukan drag dan drop grafis untuk membuat sebuah program, dimana kode program sesuai dengan standar dalam bahasa pemrograman berorientasi obyek, seperti Java, C++, dan C#. Alice memungkinkan siswa untuk segera melihat bagaimana program animasi mereka berjalan, memungkinkan mereka untuk dengan mudah memahami hubungan antara kode program dan perilaku objek dalam animasi mereka. Dengan memanipulasi benda-benda di dunia maya, siswa memperoleh pengalaman dengan semua konstruksi pemrograman yang biasanya diajarkan dalam pelajaran pengantar bahasa pemrograman.
2 2. Pendekatan Top Down
Perencanaan dari atas ke bawah ( Top Down) adalah pendekatan perencanaan yang menerapkan
cara penjabaran rencana induk ke dalam rencana rinci. Rencana rinci yang berada
di "bawah" adalah penjabaran rencana induk yang berada di
"atas". Pendekatan perencanaan sektoral acapkali ditunjuk sebagai
pendekatan perencanaan dari atas ke bawah, karena target yang ditentukan secara
nasional dijabarkan ke dalam rencana kegiatan di berbagai daerah di seluruh
Indonesia yang mengacu kepada pencapaian target nasional tersebut. Pada tahap
awal pembangunan, pendekatan perencanaan ini lebih dominan, terutama karena
masih serba terbatasnya sumber daya pembangunan yang tersedia.
Pendekatan top-down planning,
adalah pendekatan pembangunan di mana penentuan keputusan tidak menampung semua
aspirasi elemen di kelompok, tetapi hanya mementingkan keputusan bagian
tertentu dalam kelompok. Top-down planning merupakan model perencanaan
yang dilakukan dari atasan yang ditujukan kepada bawahannya dimana yang
mengambil keputusan adalah atasan sedangkan bawahan hanya sebagai pelaksana
saja. Dalam pengertian lain terkait dengan pemerintahan, perencanaan top-down
planning atau perencanaan atas adalah perencanaan yang dibuat oleh
pemerintah ditujukan kepada masyarakat dimana masyarakat sebagai pelaksana
saja.
Tidak ada satupun yang menyangkal
bahwa metode top down yang diterapkan
diera orde baru menghasilkan pertumbuhan pembangunan ekonomi yang
menakjubkan secara presentase. Akan tetapi sayangnya kemajuan ini tidak diikuti oleh kemajuan
bidang-bidang sosial yang lain sehingga muncullah ketimpangan pembangunan.
Ketimpangan pembangunan dibeberapa daerah terjadi bukan karena kesalahan
konsep, tetapi ketidakmampuan sistem pelaksanaan dalam menterjemahkan konsep
tersebut ke dalam program operasional yang mantap. Ketidakmampuan ini bisa
diakibatkan oleh rendahnya kemampuan teknis aparat pelaksana, bisa juga karena
ketidakcocokan (rasionalisasi penerapan) antara program yang dibuat Pemerintah
Pusat dengan kondisi daerah dan keinginan masyarakat, sebab masyarakat setempat
tidak diberi kesempatan untuk terlibat pada penyusunan konsef atau tidak
berdaya mempengaruhi atau merencanakan masa depan mereka. Hal tersebut menjadikan
masyarakat menjadi apatis terhadap pembangunan, masyarakat merasa tidak
berkepentingan dengan pembangunan yang pada akhirnya hal tersebut mengakibatkan
permasalahan bagi pemerintah.
3 3. Kelemahan TOP DOWN
Adapun kelemahan dari tipe “TOP DOWN PLANNING” adalah
:
- Masyarakat tidak bisa berperan lebih aktif
dikarenakan peran pemerintah yang lebih dominan bila dibanding peran dari
masyarakat itu sendiri.
- Masyarakat tidak bisa melihat sebarapa jauh suatu
program telah dilaksanakan.
- Peran masyarakat hanya sebagai penerima keputusan
atau hasil dari suatu program tanpa mengetahui jalannya proses pembentukan
program tersebut dari awal hingga akhir.
- Tujuan utama dari program tersebut yang hendaknya
akan dikirimkan kepada masyarakat tidak terwujud dikarenakan pemerintah
pusat tidak begitu memahami hal-hal yang diperlukan oleh masyarakat.
- Masyarakat akan merasa terabaikan karena suara
mereka tidak begitu diperhitungkan dalam proses berjalannya suatu proses.
4 4. Kelebihan TOP DOWN
Kelebihan
dari “TOP DOWN PLANNING” adalah :
- Masyarakat tidak perlu bekerja serta memberi
masukan program tersebut sudah dapat berjalan sendiri karena adanya peran
pemerintah yang optimal.
- Hasil yang dikeluarkan bisa optimal dikarenakan
biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh pemerintah.
3.
Mengoptimalkan kinerja para pekerja dipemerintahan
dalam menyelenggarakan suatu program.
PEMBAHASAN
5. Pembuatan Animasi
1.
Kisah yang diceritakan : “Monyet dan Buaya”.
2. Objek – objek : Monyet,
Babon, Buaya, Sungai, Pohon pisang, Objek
pendukung (Pohon-pohon, batu-batu).
3.
Storyboard
Aksi Storyboard
|
Instruksi Program
|
Urutan Program
|
|
Monyet dan Mandril berjalan bersama. Kamera mengikuti Mandril
|
·
GoldenMonkey moves forward 4 meters duration 4
·
Mandril moves forward 4 meters duration 4
·
Camera setVehicle mandril
|
Do together
|
|
Monyet berkata, “Aku lapar! Aku ingin tahu, apa ada makanan di sini?”
|
·
GoldenMonkey says, “Aku lapar! Aku ingin tahu,
apa ada makanan di sini?”
|
Do in order
|
|
Mandril mendongak ke atas, \menoleh
ke kanan dan ke kiri
|
·
Mandril getHead turn backward 0.1 meter
·
Mandril getHead turn left 0.125 m
·
Mandril getHead turn right 0.25 m
·
Mandril getHead turn left 0.125 m
|
Do in order
|
|
Mandril menunjuk ke pisang di seberang sungai dan berkata, “Lihat! Di
sana ada pisang!”
|
·
Mandril getLeftShoulder turn right 0.25 m
·
Mandril getLeftHand turn backward 0.125 m
|
Do together
|
|
·
Mandril says “Lihat! Di sana ada pisang!”
|
Do in order
|
||
·
Mandril getLeftShoulder turn left 0.25 m
·
Mandril getLeftHand turn forward 0.125 m
|
Do together
|
||
Monyet berjalan sampai ke tepi sungai sambil berkata, “Baiklah. Aku
akan mengambilnya.”
|
·
GoldenMonkey moves forward 1 m
·
GoldenMonkey says “Baiklah. Aku akan
mengambilnya.”
|
Do together
|
|
Monyet melompat ke tepi sungai
|
·
GoldenMonkey jump with GoldenMonkeyMelompat
procedure
|
Do together
|
|
Monyet berjalan sedikit mendekati bibir sungai
|
·
GoldenMonkey moves forward 1 m
|
Do in order
|
|
Monyet melompat ke batu di tengah sungai. Saat melompat muncul buaya
dari dalam sungai di sisi kiri monyet. Mandril melihatnya, dan berteriak,
“TUNGGU!”
|
·
GoldenMonkey jump with GoldenMonkeyMelompat
procedure.
·
Caiman move up 0.25 m
·
Mandril says, “TUNGGU!”
|
Do together
|
|
Telat! Monyet disambar oleh buaya. Monyet ikut tenggelam ke sungai
saat diterkam buaya
|
·
Caiman get GoldenMonkey with CaimanMenyambar
procedure
|
Do together
|
|
·
Caiman move up 0.7 dan forward 3.0
|
Do in order
|
||
·
Caiman move down 0.7 dan forward 3.0
|
Do in order
|
||
·
addCollisionStartListener:
·
GoldenMonkey delay 0.2
·
GoldenMonkey setVehicle caiman
·
GoldenMonkey turn backward 0.125
·
Camera turnToFace caiman
|
Do in order
|
||
Mandril berteriak, “TIDAAAAKK!!!”. Kamera menyorotinya
|
·
Mandril says, “TIDAAAAKK!!”
·
Camera turnToFace mandril
|
Do together
|
|
Mandril berbalik, terlihat bersedih dengan menundukkan kepala
|
·
Camera setVehicle ground
·
Mandril turnToFace camera
·
Mandril getHead turn forward 0.125
|
Do in order
|
|
PENUTUP
1. Kesimpulan
Jadi secara umum Alice bukan sebuah bahasa OOP,Alice “berbasis object”, bukan “berorientasi” object,Alice adalah lingkungan pemrograman visual untuk mendefinisikan objek dan mengelola interaksi antar objek menghasilkan program animasi,Alice tidak digunakan untuk belajar OOP yang sesungguhnya/mendalam, tetapi memberikan sense tentang objek dan interaksi antar objek.
Jadi secara umum Alice bukan sebuah bahasa OOP,Alice “berbasis object”, bukan “berorientasi” object,Alice adalah lingkungan pemrograman visual untuk mendefinisikan objek dan mengelola interaksi antar objek menghasilkan program animasi,Alice tidak digunakan untuk belajar OOP yang sesungguhnya/mendalam, tetapi memberikan sense tentang objek dan interaksi antar objek.
2. Saran
Pembuatan buku tentang Alice 3D World Sebagai Media pembuatan game. Disadari masih memerlukan beberapa pengembangan dalam pembuatan buku ini. Untuk itu diperlukan pengembangan, dengan membuat permainan yang lebih beragam dengan animasi yang lebih nyata. Selain itu buku ini diharapkan dapat berkembang kedalam aspek yang lebih baik.
Pembuatan buku tentang Alice 3D World Sebagai Media pembuatan game. Disadari masih memerlukan beberapa pengembangan dalam pembuatan buku ini. Untuk itu diperlukan pengembangan, dengan membuat permainan yang lebih beragam dengan animasi yang lebih nyata. Selain itu buku ini diharapkan dapat berkembang kedalam aspek yang lebih baik.
No comments: